Pangker's
Restaurant/cafe
53223 Cilacap
Indonesia
Phone: 085647777600
Opening times:
Sun 5:00 pm - 2:00 am
Mon 5:00 pm - 2:00 am
Tue 5:00 pm - 2:00 am
Wed 5:00 pm - 2:00 am
Thu 5:00 pm - 2:00 am
Fri 5:00 pm - 2:00 am
Sat 5:00 pm - 2:00 am
ANGKRINGAN SUPER GEOL YG MENGEDIAKAN MENU TERUNAENUAK DAN TERUNIK SERTA MEMBERIKAN SENSASI YANG CETAR MEMBAHANA,,,,,
,P A{PEDUAS ABISSSSSS}
Sejarah Ankringan - Jawa - Indonesia
Bagi kita yang kelaparan tapi tak punya banyak uang, maka angkringanlah salah satu alternatifnya, bagaimana tidak, angkringan menyediakan berbagai makanan dan minuman khas jawa seperti sego sambel, sate usus, tempe bakar dan sebagainya dengan harga yang relatif murah. Apalagi untuk para mahasiswa yang merantau untuk sekolah , otomatis pengeluaran ... Lihat Selengkapnyauntuk makan harus dihemat..... dan angkringanlah alternatifnya selain utk ngirit angkringan juga pas dijadikan sbg tempat jajanan wisata kuliner malam hari disaat cacing perut mulai berontak.
Sejarah angkringan di Jogja merupakan sebuah romantisme perjuangan menaklukan kemiskinan. Angkringan di Jogjakarta dipelopori oleh seorang pendatang dari Cawas, Klaten bernama Mbah Pairo pada tahun 1950-an. Cawas yang secara adminstratif termasuk wilayah Klaten Jawa Tengah merupakan daerah tandus terutama di musim kemarau. Tidak adanya lahan subur yang bisa diandalkan untuk menyambung hidup, membuat Mbah Pairo mengadu nasib ke kota. Yaitu ke Jogjakarta.
Mbah Pairo bisa disebut pionir angkringan di Jogjakarta. Usaha angkringan Mbah Pairo ini kemudian diwarisi oleh Lik Man, putra Mbah Pairo sekitar tahun 1969. Lik Man yang kini menempati sebelah utara Stasiun Tugu sempat beberapa kali berpindah lokasi. Seiring bergulirnya waktu, lambat laun bisnis ini kemudian menjamur hingga pada saat ini sangat mudah menemukan angkringan di setiap sudut Kota Jogja. Angkringan Lik Man pun konon menjadi yang paling dikenal di seluruh Jogja, bahkan di luar Jogja.
Berbeda dengan angkringan saat ini yang memakai gerobak, diawal kemunculannya angkringan menggunakan pikulan sebagai alat sekaligus center of interest. Bertempat di emplasemen Stasiun Tugu Mbah Pairo menggelar dagangannya. Pada masa Mbah Pairo berjualan, angkringan dikenal dengan sebutan ting-ting hik (baca: hek). Hal ini disebabkan karena penjualnya berteriak “Hiiik…iyeek” ketika menjajakan dagangan mereka. Istilah hik sering diartikan sebagai Hidangan Istimewa Kampung. Sebutan hik sendiri masih ditemui di Solo hingga saat ini, tetapi untuk di Jogja istilah angkringan lebih populer. Demikian sejarah angkringan di Jogjakarta bermula.



